Kembali ke semua artikel
Kenapa Proyek Vibe Coding Sering Gagal di Tengah Jalan?

Kenapa Proyek Vibe Coding Sering Gagal di Tengah Jalan?

Mengapa vibe coding mentok di tengah: kurang perencanaan, prompt kabur, dan three-month wall — bukan karena AI lemah.

Foto profil Asdita

Asdita

Author MahirVibeCoding

Publikasi

10 Maret 2026

Reading Time

4 menit baca

Kamu punya ide aplikasi, buka Cursor atau Claude, ketik prompt, dan dalam hitungan menit sudah punya kode yang "jalan". Rasanya produktif. Rasanya cepat. Tapi dua minggu kemudian, kamu stuck. Fitur baru yang kamu minta malah merusak fitur lama. Kamu revisi prompt berkali-kali, generate ulang, tapi hasilnya tetap meleset. Akhirnya project itu terbengkalai di folder laptop kamu, sama seperti project sebelumnya.

Kalau kamu pernah mengalami ini, kamu tidak sendirian.

Masalahnya Bukan di AI, Tapi di Input Kamu

Menurut data dari Harness State of Software Delivery 2025, 67% developer menghabiskan lebih banyak waktu debugging kode AI daripada menulis kode secara manual. Angka ini ironis mengingat AI seharusnya membuat kita lebih produktif.

Yang lebih mengejutkan lagi, sebuah studi dari METR (Juli 2025) melakukan randomized controlled trial terhadap developer berpengalaman. Hasilnya: developer yang menggunakan AI tools ternyata 19% lebih lambat dibanding yang tidak menggunakannya. Padahal sebelum studi, mereka yakin akan 24% lebih cepat. Gap antara persepsi dan realita ini mencapai 43 persen.

Bukan AI-nya yang bermasalah. Masalah utamanya adalah kita langsung loncat ke eksekusi tanpa punya fondasi yang jelas.

"Garbage In, Garbage Out" di Era AI

Coba perhatikan prompt seperti ini:

"Buatkan sistem reservasi restoran online dengan fitur booking meja, loyalty points, review menu, delivery order, dan admin dashboard."

Prompt ini terlihat lengkap. Tapi AI tidak tahu: siapa yang melakukan booking? Apakah customer perlu buat akun? Bagaimana cara pembayaran? Masalah utama yang ingin diselesaikan itu apa sebenarnya?

Karena tidak tahu konteksnya, AI akan menebak. Dan tebakan AI selalu condong ke arah yang paling umum. Hasilnya adalah aplikasi yang terlihat lengkap di permukaan, tapi tidak menyelesaikan masalah spesifik siapa pun.

James Gosling, pencipta Java, pernah berkomentar tentang fenomena ini: "As soon as your project gets even slightly complicated, they pretty much always blow their brains out."

Inti pesannya jelas. Untuk project yang lebih dari sekadar prototype, pendekatan "langsung prompt" tidak akan pernah cukup.

Fenomena "Three-Month Wall"

Red Hat Developer dalam artikelnya "The Uncomfortable Truth About Vibe Coding" menggambarkan fenomena yang mereka sebut three-month wall. Project yang di-vibe coding secara konsisten mentok di bulan ketiga. Codebase sudah terlalu besar untuk dipahami satu orang, sementara context window AI hanya bisa melihat fragmen kecil dari keseluruhan sistem.

Di titik ini, setiap perubahan kecil berpotensi merusak bagian lain. Developer kehilangan mental model tentang kodenya sendiri. Debugging terasa seperti arkeologi, menggali lapisan demi lapisan kode yang ditulis AI tanpa pemahaman utuh tentang bagaimana semuanya saling terhubung.

Analisis dari GitClear menunjukkan data yang mendukung ini: duplikasi kode meningkat 8 kali lipat selama 2024 di codebase yang menggunakan AI assistant. Code refactoring turun dari 25% di 2021 menjadi di bawah 10%. Kode copy-paste melebihi kode yang di-refactor untuk pertama kalinya dalam dua dekade.

Yang Sebenarnya Kurang: Perencanaan

Masalah ini punya solusi yang tidak glamor tapi efektif: luangkan waktu untuk merencanakan sebelum menyentuh satu prompt pun.

Dalam konteks vibe coding, perencanaan bukan berarti menyusun dokumen 50 halaman seperti di perusahaan besar. Cukup satu dokumen ringkas yang menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental: apa masalah yang ingin diselesaikan, untuk siapa, apa yang harus ada di versi pertama, dan apa yang sengaja ditunda.

Dokumen ini biasa disebut PRD (Product Requirements Document). Dengan PRD, kamu prompt dengan konteks yang kaya, bukan ide kasar. Hasilnya bukan output generic, tapi output yang spesifik dan relevan dengan kebutuhan kamu.

Contoh sederhana: ketika kamu menggali lebih dalam untuk sistem reservasi restoran, kamu mungkin akan sadar bahwa fitur loyalty points, delivery, dan review sebenarnya tidak menyentuh masalah utama (double booking dan no-show). Ketiga fitur itu bisa ditunda. Dan customer ternyata tidak perlu membuat akun, cukup booking reference saja. Keputusan-keputusan seperti ini tidak akan pernah muncul kalau kamu langsung prompt dengan ide kasar.

Berhenti Menyalahkan AI

AI coding agent itu powerful. Tapi tanpa fondasi yang matang, kamu hanya akan menghasilkan kode yang cepat dibuat dan cepat juga dibuang. Token habis untuk revisi tanpa akhir. Waktu terbuang berminggu-minggu. Energi terkuras untuk debug kode yang sejak awal dibangun di atas fondasi yang rapuh.

Solusinya bukan prompt yang lebih panjang atau model yang lebih canggih. Solusinya adalah berpikir lebih dulu sebelum meminta AI bekerja.


Artikel ini diadaptasi dari buku "Mahir Vibe Coding: Dari Ide ke Sistem yang Terstruktur" yang membahas secara lengkap alur kerja dari planning sampai deployment dengan AI Coding Agent.

Lanjutkan Belajar

MahirVibeCoding membantu kamu menyusun workflow AI yang bisa dipakai untuk shipping.

Setelah baca artikel ini, lanjutkan dengan playbook yang lebih sistematis untuk planning, eksekusi, review, dan delivery.

Lihat Program